Make your own free website on Tripod.com

BACK

Faktor Psikologis dalam Belajar

 

Mungkin kita sudah mengetahui belajar bukan hanya berkaitan dengan faktor yang bersifat fisik saja, seperti: meja belajar yang nyaman, penerangan yang memadai, catatan yang rapi, dan lain sebagainya. Ada hal lain yang juga sangat menentukan dalam keberhasilan belajar sehingga harus kita perhatikan juga, yaitu berkaitan dengan faktor yang bersifat psikologis.

Lalu, apa saja sih faktor psikologis dalam belajar? Sebenarnya ada cukup banyak faktor psikologis yang berperan dalam proses belajar. Namun di sini kita mengambil sebagian saja yang penting.

1.     Perhatian

Sebagian ahli psikologi mendefiniskian perhatian sebagai pemusatan tenaga psikis pada suatu obyek. Sebagian lagi mendefinisikannya sebagai banyak sedikitnya (intensitas) kesadaran yang menyertai aktifitas yang dilakukan. Kedua definisi tersebut bisa kita pakai, tergantung konteks yang ada.

Hal-hal yang bisa menarik perhatian:

  1. Dipandang dari sisi obyek (apa yang diperhatikan) adalah hal yang lain daripada yang lain atau berbeda dari konteksnya, seperti:

§         Dalam suatu kelas yang semua muridnya memakai seragam putih abu-abu, terdapat seorang murid yang memakai seragam pramuka. Maka, murid yang memakai seragam pramuka itu menarik perhatian. (® warnanya kontras)

§         Dalam suatu pertemuan, semua yang hadir telah duduk tenang namun ada seseorang yang mondar-mandir di ruangan tersebut. Maka, orang yang mondar-mandir itu menarik perhatian. (®bergerak-gerak)

§         Dalam suatu majalah terdapat iklan yang dipasang terbalik, maka iklan yang dipasang terbalik itu biasanya menarik perhatian. (®dipasang terbalik)

§         Dalam suatu koran atau tabloid terdapat judul artikel yang hurufnya ditulis paling besar dibanding huruf-huruf yang lain, maka huruf yang ditulis paling besar itu menarik perhatian. (®ukurannya besar)

§         Dalam memilih jeruk atau apel di swalayan, kita cenderung memulai dengan memperhatikan jeruk atau apel yang letaknya di tengah. (®terletak di tengah)

Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa sesuatu dapat menarik perhatian apabila obyek tersebut memenuhi satu atau lebih dari kriteria berikut ini, yaitu: warnanya kontras/menyolok, bergerak-gerak, dipasang terbalik/miring, ukurannya paling besar, dan terletak di tengah-tengah.

  1. Dipandang dari sisi subyek (orang yang memperhatikan) adalah sesuatu yang bersangkut-paut dengan kepribadian si subyek, seperti:

§         Orang yang ingin mempunyai komputer cenderung memperhatikan iklan atau informasi tentang komputer. (®kebutuhan/keinginan)

§         Orang yang memiliki minat atau kegemaran pada dunia otomotif cenderung memperhatikan informasi yang berkaitan dengan otomotif. (® minat/ kegemaran)

§         Orang yang memiliki pekerjaan atau profesi sebagai dokter cenderung mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang berkaitan dengan penyakit, teknik terbaru dalam penyembuhan suatu penyakit, obat terbaru, dan lain-lain. (®profesi/keahlian)

§         Orang yang pernah kuliah di UI cenderung tertarik perhatiannya dengan pembicaraan mengenai UI (®sejarah hidup)

Dengan demikian kita cenderung tertarik perhatian kita pada hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan/keinginan kita, minat/kegemaran kita, profesi/keahian kita, atau sejarah hidup kita.

Dari pemahaman di atas, kita dapat menerapkan faktor perhatian dalam kegiatan belajar kita. Misalnya, dalam catatan pelajaran kita, kita beri warna yang mencolok atau huruf yang ditulis besar/miring pada hal-hal yang kita anggap penting. (Coba Anda diskusikan dengan teman Anda atau Anda pikirkan sendiri bagaimana cara meningkatkan perhatian Anda pada pelajaran yang kurang Anda sukai, seperti: Matematika)

2.     Ingatan

 

memanggil

 

menerima

 
Secara sederhana, ingatan dapat didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan memanggil kembali informasi/kesan. Untuk lebih jelasnya, dapat digambarkan dengan diagram berikut:

 

 


Berdasarkan pengertian tersebut maka ingatan yang baik apabila:

a.       dapat dengan cepat atau mudah untuk menerima/mengecamkan

b.       dapat dengan teguh/lama dan banyak dalam menyimpan

c.       dapat dengan cepat memanggil kembali

Untuk dapat meningkatkan daya ingat, selain minum obat yang mengandung Ginko Biloba (he..he..he,ini bukan promosi, lho..), ada beberapa kiat yang bisa dilakukan, antara lain:

§         Menyuarakan, dengan demikian dua indera yang bekerja, yaitu: mata dan telinga. Konon, Abraham Lincoln (salahsatu Presiden AS yang cukup terkenal) selalu membaca buku dengan menyuarakan/mengeraskan bacaannya.

§         Melakukan pengulangan-pengulangan. Dikenal rumus 2 x 3 ¹ 6 x 1, yang artinya bahwa dengan mengulang 2 kali dalam 3 hari hasilnya akan lebih baik (tidak sama) dibanding mengulang 6 kali dalam 1 hari. Itulah sebabnya, belajar dengan SKS (sistem kebut semalam) kurang efektif.

§         Menggunakan “titian keledai”, misalnya untuk menghafal 36 butir-butir P-4, kita cukup menghafal huruf depannya saja.

§         Melagukan, misalnya untuk menghafal nama-nama 25 Nabi atau nama arah angin.

§         Menggolongkan dalam kategori yang berarti, seperti: penggunaan tabel, ikhtisar/ ringkasan, dan skema.

§         Membuat asosiasi atau hubungan antara satu kesan dengan kesan yang lain. Asosiasi ini dapat didasarkan pada:

š      kesesuaian dengan atribut lain yang menyertainya, misalnya: nama seseorang dengan julukan atau ciri khasnya, suatu tempat dengan aromanya, judul lagu dengan penyanyi atau penciptanya, dan lain-lain.

š      keberurutan, misalnya: proses terjadinya hujan hingga terjadinya banjir di Jakarta, sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dari lahir hingga wafat, mekanisme pencernaan makanan dari mulut hingga ke dubur, dan sebagainya.

š      keberlawanan, misalnya: ketika melihat orang menggunakan mobil mewah, kita teringat dengan para anak jalanan/pengemis yang meminta-minta di perempatan lampu merah.

š      sebab-akibat, misalnya: saat hujan lebat, kita teringat bahaya banjir, bahaya tanah longsor, bahaya demam berdarah, dan lain-lain.

3.     Motif

Telah disadari sejak lama bahwa motif mempunyai peran yang sangat penting dalam perilaku seseorang. Motif, atau ada juga yang menyamakannya dengan motivasi, yaitu keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong dia untuk melakukan aktifitas tertentu guna mencapai tujuan tertentu.

Di antara berbagai pengkategorian tentang motif ini, kita ambil satu saja yang terpenting yakni pembagian motif berdasarkan sumbernya, yaitu:

a.       motif intrinsik, adalah motif yang munculnya berasal dari dalam dirinya sendiri. Misalnya, motif seseorang untuk mandi biasanya muncul dari kesadarannya sendiri akan pentingnya menjaga kebersihan badan.

b.       motif ekstrinsik, adalah motif yang muncul akibat adanya rangsangan/stimulus dari luar. Sifat dari motif ekstrinsik ini dibagi lagi menjadi 2 macam, yaitu: yang bersifat positif dan yang bersifat negatif. Yang bersifat positif, misalnya, motif seseorang yang mau belajar setelah dijanjikan akan dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya bila ia naik rangkingnya di kelas. Yang bersifat negatif, misalnya, motif seseorang yang mau belajar setelah diancam putus hubungan oleh pacarnya bila ia tidak naik kelas.

Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa:

§         Aktifitas yang didorong motif intrinsik ternyata lebih sukses dibanding dengan yang didorong oleh motif ekstrinsik. Oleh karena itu, bila ingin sukses belajar hendaknya dibangun dari motif intrinsik kita.

§         Aktifitas yang didorong oleh motif ekstrinsik yang bersifat positif ternyata lebih baik hasilnya dibanding yang didorong oleh motif ekstrinsik yang bersifat negatif. Oleh karena itu dalam meningkatkan motif ekstrinsik, dukungan dan penghargaan lebih baik daripada ancaman atau hukuman.