Make your own free website on Tripod.com

BACK HOME

AKHLAK DALAM KAITANYA DENGAN ALLAH, MANUSIA DAN LINGKUNGAN

Oleh : Fahmi Tibyan

(Ketua Umum PII Jatim)

 

BAB I

MUQODIMAH

Berbicara tentang akhlak tidak dapat dilepaskan dari pembcaraan manusia. Karena akhlak adalah sebuah manifestasi dari kepribadian manusia yang mencapai drajat tertentu. Seringkali kita salah menafsiri bahwa orang yang ibadahnya taat, sholatnya khusuk secara otomatis akhlaknya baik. Begitu pula terkadang kita mengklaim bahwa orang ang ibadahnya asal-asalan kemudian dijustifikasikan bahwa akhlak orang tersebut buruk.

Padahal dalam Islam itu sendiri ajaran yang dimaksudkan adalah untuk mensucikan manusia itu sendiri, sebagaimana dalam tulisannya Jalaluddin Rahmad yang memaknai kalimat syahadat denga tafisrnya bahwa adalah upaya untuk mensucikan aqidah manusia, membersihkan manusia dari kemusrikan, menafikan segala pengabdian kepada selain Allah. Sholat juga termasuk mensucikan jiwa dengan selalu mengingat Allah. Shaum sebagai bentuk mensucikan ruhani kita dengan mengendalikan hawa nafsu dan menundukanya pada perintah Allah, zakat dimaknai juga sebagai bentuk pensucian harta.1 Artinya Islam sebagai ajaran yang universal selai dimensi rabbaniyah atau teologis juga sangat menekankan dimensi insaniyah (humanisme). Islam adalah sebuah system yang universal, kamil, dan syamil (sempurna). Artinya aturan-aturan yang ada dalam Islam bukan hanya ditetapkan bagi individu tanpa memperhatikan kehidupan keluarga, bukan hanya untuk kehidupan keluarga tanpa memperhatikan kehidupan masyarakat, dan bukan hanya untuk masyarakat tertentu tanpa memperhatikan masyarakat yang lain.

Hasan Al Bana mengungkapkan jangkauan syumul Islam dengan ungkapan :

“Islam adalah risalah yang panjang terbentang sehingga meliputi (mencakup) semua abad sepanjang zaman, terhampar luas sehingga meliputi semua cakrawala ummat, dan begitu mendalam (mendetail) sehingga memuat urusan-urusan dunia dan akhirat.”

 

Risalah totalitas Islam tersebut kemudian ditangkap manusia sebagai sebuah risalah dalam kaitanya sebagai insane yang kamil (sempurna). Islam bukan hanya sebagai risalah bagi akal manusia tanpa ruhnya, bukan pula untuk ruh tanpa jasad, bukan pula untuk pikiranya tanpa perasaanya. Islam benar-benar sebagai risalah bagi manusia secara total; ruh, akal, fisik, instink maupun naluri. Risalah tersebut kemudian dipancarkan kedalam akhlak manusia baik itu kepada Allah, kepada manusia itu sendiri serta kepada lingkunganya. Sebagai sebuah system yang utuh totalitas dari Islam.

 

A.     Pengertian Akhlak

Secara bahasa akhlak berasal dari bentuk jamak dari kata “alkhuluku dan kata yang berikut ini mengandung segi-segi yang sesuai dengan kata “al-khalku” yang bermakna kejadian. Kedua kata tersebut berasala dari kata kerja “khalaka” yang mempunyai arti “menjadikan” dari kata “khalaka” inilah timbul bermacam-macam arti seperti Alkhuluku yang mempunyai makna “budi pekerti”, Al-khalku mempunyai makna “kejadian”, Al-khalik bermakna “Tuhan pencipta alam”.

Imam Al-Ghazali dalam bukunya yang sangat masyhur “Ihya Ulumuddin” mendefinisikan akhlak sebagai sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang menimbulkan segala perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan.

Sedangkan Dr. Ahmad Amin dalam bukunya Al-akhlak’ menyatakan bahwa adalah ilmu untuk menetapkan ukuran segala perbuatan manusia, yang baik atau buruk, yang bear atau yang salah,yang hak atau yang bathil 2

Dari definisi-definisi ditas dapat dimaknai bahwa akhlak adalah kebiasaan  kehendak, yang berarti bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu.  Membiasakan ini bisa diartikan secara lahiriah yang diterjemahkan sifaf dan amal yang dijelmakan anggota lahir manusia, semisal kelakuan-kelakuan yang dilakukan oleh tangan, mulut, gerakan badan dan sebagainya. Disamping itu juga meliputi hal-hal yang berhubungan dengan batin, yakni yang dilakukan batin manusia seperti hati.  Dari sini akhlak merupakan perpaduan dari gambaran jiwa seorang manusia ketika menjalankan perbuatan-perbuatanya baik secara lahior maupun batin, yang terpancar secara alami tidak dipaksakan dan dibuat-buatdan merupakan gambaran dari sifat-sifat yang tertanam dari jiwa.

 

 

 

B.     Kedudukan Allah, Manusia dan Lingkungan

 

Sebagaimana tujuan dari akhlak itu sendiri yang hendak menciptakan manusia sebagai mahluk yag tinggi dan sempurna, dan membedakanya dari mahluk-mahluk lainya. Dari sini akhlak menjadikan seorang manusia pada posisinya yang mulia, karena akhlak hendak menjadikan orang berbuat baik baik kaitanya kepada Allah, kepada manusia, maupun kepada lingkunganya. Bukankah manusia itu sendiri adalah mahluk yang sempurna karena disebutkan dalam Al-Qur’an, manusia menjadi tokoh sentral, oleh karenanya kitab ini juga ditujukan sebagai petunjuk bagi manusia. Manusia mempunyai kelebihan karena memiliki kemampuan berfikir(aql), potesi syafwat (nafsu) dan jasadiyah.

Namun demikian manusia didalam kehidupannya juga tidak dapat dilepaskan dari batasan-batasan tanggungjawab dan tugasya atas perbuatan didunia. Dari sini kekuasaan Al-khalik sangat berpengaruh terhadap manusia. Dinyatakan dalam suatu ayat

Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat pada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatintya dan dipikulah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amt dzalim dan amat bodoh.

Dari ayat diatas terlihat bahwa semula amanat itu ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun semuanya itu tidak dapat memikulnya dan bahkan takjut kepada-Nya, namun kemudia manusialah yang mau untuk memikulnya. Dari sinilah manusia adalah mahluk yang mempunyai konsekwensi untuk taat dan patuh kepada Allah, baik yang bersifat alamiah, tanpa pilihan, maupun ihtiariah yang didalamnya ada pilihan untuk berbuat sebaliknya.3 Maksud ditawarkanya amanat disini adalah bahwa pribadi yang mempunyai kebebasan diminta untuk melakukanya, sementara dari mahluk-mahluk yang tidak mempounyai kebebasan hanya dikehendaki ketaatan yang mutlak.

Dalam sebuah ayat yang lain disebutkan

Sesungguhnya kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada diatasnya dan hanya kepada Kmilah (mereka) akan dikembalikan.

Kata mewarisi dalam ayat ini mengandung pengertian “memiliki” karena memang sejak semula bumi dan segala seisinya adalah milik Allah. Namu demikian kepemilikan manusia bersifat sementara dan semu. Sedangkan kepemilikan hakiki hanya ditangan Allah. Artinya kedudukan manusia dan lingkungan disini bumi dan seisinya adalah merupakan titipan dari Allah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri, namun begitu disitu ada batasan-batasan yang menjadi etika didalam mengelola lingkungan tersebut. Semisal tidak berbuat kerusakan dan kedzaliman atas lingkunganya. Karena sesungguhnya lingkungan dan seisinya adalah titipan dari Allah yang harus dijaga kelstarianya. Sehingga dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh manusia dimasa yang akan datang.

Manusia kedudukanya dengan Allah adalah sebagai seorang hamba yang dibebani tanggung jawab untuk beribadah dan taat kepada Allah. Untuk itulah manusia juga mempunyai posisi sebagai khalifatullah dimuka bumi, yang juga bermakna manusia memiliki amanah sebagai kepercayaan atau wewenang untuk mengelola bumi dan seisinya, yang tentunya sesuai dengan koridor yang telah digarikan oleh Allah.

 

  1. Kedudukan Akhlak kepada Allah

Sebagai konsekwensi manusia yang berakhlak tentunya tidak dapat dilepaskan dari tindakan penghambaan manusia itu kepada Tuhannya. Orang yang mengaku berakhlak namun tanpa iman diumpamakan seperti tengkorak tanpa daging. Artinya iman adalah sebuah pondasi yang harus ditanamkan terlebih dahulu kepada hamba-hambanya.

Meyakini bahwa bahwa tiada Tuhan selain Allah merupakan iktikad yang harus ditanamkan dalam jiwa. Sebagai sebuah konsekwensi maka akhlak yang terpancar dari seorang muslim harus sesuai dengan apa yang menjadi kehendak dan ridho Allah. Sebagaimana firman Allah :

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka kamu pasti akan menemui-Nya.”(Q.S. Al-Insyiyaq:6)

“..dan bahwasanya kepada Rabbmu kesudahan (segala sesuatu)…” (Q.s.An-najm : 42)

Artinya manusia diciptakan untuk sekedar makan dan minum, bersenda guarau dan main-main, kemudian setelah itu kembali keasalnya (meninggal dan menjadi tanah) atau diciptakan hanya untuk menghambur-hamburkan harta duniawi saja, akan tetapi manusia diciptakanuntuk tujuan yang sangat luhur. Dalam sebuah firman-Nya disebutkan :

“ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku menghendaki supaya mereka Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Yanga Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh.”(Q.s. Adz-Dzariyat : 56-8).

Jadi manusia itu tidak diciptakan untuk menuruti hawa nafsu dialam fana ini tanpa ada pertanggungjawaban kepada khalik. Sebuah konsekwensi logis dari kedudukan akhlak manusia kepada Allah adalah bagaimana seghala perbuatanya benar-benar sesuai dengan pa yang digariskan-Nya. Itu merupakan bentuk penghambaan total hakekat dari manusia itu sendiri. 4 Dengan ini kehidupan manusia akan menyadari bahwa dalam hidupnya ada kenikmatan, dan kelezatan, ruhani dan jasmani.

 

  1. Kedudukan Akhlak kepada manusia

 

             Manusia adalah mahluk Allah, namun dia mempunyai kedudukan khusus, dan berperan dalam wujud kehidupan didunia ini, yang memberikan peran dan kedudukan ini adalah Allah SWT. Manusia juga salah satu mahluk ciptaan Allah. Dia (manusia)adalah satu-satunya mahluk Allah yang diobatkan untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini. Keberadaanya dimuliakan dengan akal pikiran, dibimbing kesebuah jalan, diberi al-bayan (penjelasan-penjelasan kehidupan) dan diajarkan segala yang belum diketahuinya.  Untuk itulah manusia juga tidak dapat dilepaskan dengan kehidupan social yang menharuskan sesama manusia saling beriteraksi dan berkomunikasi. Manusia tidak dapat hidup diduia ini dengan sendiri, ia membutuhkan manusia yang lain untuk memenihi kebutuhanya. Sehingga bias dikatakan manusia adalah mahluk social yang tidak dapat hidup tanpa adanya manusia lain. Sebagai konsekwensinya agar sebuah tatanan kehidupan antar manusia dapat berjalan dengan seimbang maka diperlukan keharmonisan sesama manusia. Dalam sebuah hadis disebutkan :

Dari Usmah bin Syarik, ia berkata, “kami sedang duduk-duduk disisi nabi Muhammad Saw seakan-akan diatas kepala kami ada seekor burung. Sehingga diantara kami tidak seekor burung, sehigga diantara kami tidak seorang pun bercakap-cakap. Ketika itu datanglah beberapoa orang menghadap beliau. Kemudian mereka berkata,” Siapakah diantara hamba Allah yang paling dicintai-Nya ?” lalu beliau bersabda,”yaitu orang yang paling baik akhlaknya”. (HR. Thabrani).

Begitu pula dalam sebuah hadis yang lain disebutkan bahwa ada seorang wanita yang melakukan sholat secara rajin, puasa, dan memberi shadaqoh, akan tetapi wanita tersebut sering menyakiti tetangganya dengan lidahnya, diriwayatkan wanita tersebut kata Rosulullah ia dimasukkan kedalam neraka.

Hadis diatas menjelaskan kaitanya akhlak dengan hubunganya sesama manusia. Seorang manusia  belumlah dapat dikalim memiliki akhlak yang utuh meskipu secara ibadahnya ia khusuk dan rajin. Namun demikian perwujudan seorang yang berahlak mulia didalam tindak tanduknya didalam sesama manusa tidak merugikan orang lain disamping sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Maka kedudukan ahlak kepada sesama manusia juga termasuk bagian dari keimanan seseorang. Karena Islam adalah dimensi yang utuh yang menyeimbangkan antara kehidpan ketuhanan juga kehidupan kemanusiaan.

 

  1. Kedudukan Akhlak kepada lingkungan

Disamping ada aklhak kepada Allah dan kepada sesama manusia, didalam Islam juga mengenal akhlak terhadap alam lingkungan . sebab risalah Islam tidak hanya bagi manusia saja, melainkan juga bagi seluruh alam semesta.dalam surat Al-Anbiya’ : 107 yang berarti :

“Tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk memberi rahmad bagi sekalian alam”.

Alam lingkungan  diciptakan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia, sepertihalnya binatang, maupun tumbuhan-tumbuhan, manakal alam lingkungan tidak dijaga dengan benar, maka tidak menutup kemungkinan alam lingkungan ini akan mengalami kerusakan dan kemudian keseimbangan ekosistem akan terganggu dan ujung-ujungnya juha mempengaruhi kehidupan manusia.

Sebagai contoh akhlak terhadap lingkungan adalah semisal menyayangi binatang, kerena makhluk ini diciptakan untuk kesejahteraan dan kebutuhan manusia. Dalam sebuah hadis diriwayatkan ada seorang  pernah memberi minumpada seekor anjing yang kehausan dengan menimbakan air melalui sepatunya dari sebuah telaga. Perbuatan ini dipandang sebagai perbuatan yang baik dan berpahala.5

Dalam sebuah hadis lain juga disebutkan.

“seorang perempuan telah disiksa, karena ia telah mengurung kucingnya, ia tidak memberikanya makanan minuman dan tidak pula melepaskanya hingga kucing itu mencari makan sendiri serangga-serangganya dimuka bumi.”

 

Hadis diatas menujukan betapa tingginya moralitas Islam terhadap mahluk hidup lainya. Baik dengan jalan memakmurkan, melestarikan, maupun mensejahterakan bumi dan seisinya. Rosulullah juga menganjurkan ummatnya untuk melakukan penghijauan pada alam sekelilinnya, karena menanm sebuah pohon laksana investasi yang akan dinikmati hasilnya bagi anak cucu dimasa yang akan dating. Sebagaimana hadis Nabi yang artinya “Tidaklah bagi seorangmuslim yang menanmsebuah pohon atau menanami tanah, kemudianseekor burung atau seorang manusia atau seekor hewan lainya memakan hasilnya, kecuali kebaikan bagi dirinya.” (H.R. Bukhari).

Dari beberapa hadis diatas bahwa mengelola alam dengan baik, menyayngi binatang-binatang termasuk bagian dari akhlak manusia kepada alam semesta. Bagaimanapun juga kita hidup disebuah bumi yang sementara dan dialamnya terdapat lingkungan yang melangsungkan kehidupan manusia. Jika manusia mampu untuk menjaga dan melestarikan lingkunganya secara baik dengan akhlak yang terpuji terhadap lingkungan, secara tidak langsung ia juga menghargai dan menyayangi dirinya sendiri. Karena lngkungan adalah bagian dari kehidupan manusia yang wajib untuk dijaga dan dilestarikan.

 

KHATIMAH

 

Akhlak adalah bagian dari Islam yang utuh. Didalam akhlak kepribadian seorang manusia dapat terlihat. Artinya tanda keimanan dan ketundukan ibadahnya kepada Allah apabila dilakukan secara benar, akan dapat terlihat dari kepribadian akhlaknya didalam keseharian. Didalam sejarah kehidupan manusia membuktikan, bahwa kebahagiaan yang ingin dicapai dengan menjalankan syariat tersebut hanya dapat diperoleh dengan akhlak yang mulia.

Islam sangat memperhatikan persoala akhlak. Bahkan  persoalan ini secara total diwujudkan pada dimensi kedudukan akhlak itu sendiri. Baik akhlak kepada Allah, akhlak kepada manusia dan juga akhlak kepada lingkungan. Akhlak kepada Allah merupakan sebuah bentuk penyerahan total sang mahluk yang bernama manusia untuk berjalan dimuka bumi sesuai dengan tata aturan yang telah digariskan Allah sebagai sebuah penyerahan  seorang hamba yang mempunyai kewajiban untuk beribadah. Begitu pula akhlak kepada manusia adalah sebuah manifestasi dari keimanan seseorang yang diuji didalam hubungan sosialnya. Belum tentu seseorang secara teologis berhasil mencapai drajat kekhusukan yang tinggi, namun dalam persoalan sosisal semisal bertetangga, bermasyarakat malahan kurang berhasil. Maka akhlak kepada manusia inilah penyeimbangan dalam kaitanya manusia sebagai mahluk social. Sedangkan ahlak kepada lingkungan adalah sebuah perwujudan dari kekhalifahan manusia yang memiliki potensi-potensi strategis dibandingkan degan mahluk yang lain untuk mengelola alam lingkungan sesuai dengan tuntunan-tutunan Allah. Dengan maksud bahwa memang alam lingkungan adalah ciptaan Allah yang diperuntukan kepada manusia, maka haruslah dijaga dan dirawat dengan penuh kemaslahatan.

Dan akhirnya sebagai manusia amatlah bersyukur manakala mendayagunakan segenap potensinya sebagai seroang khalifatullah dan abdillah dengan secara utuh menhambakan diri kepada-Nya dengan perwujudan akhlak-akhlak yang mahmudah, karena memang kita diciptakan sebagai mahluk yang sempurna.

 

Wallahu’alam bisshawab

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amin Ahmad, “Al-Akhlak”, terjemahan bahtiar Affandy, jembatan, Jakarta,1957.

____________, “Etika Ilmu Akhlak”, Bulan Bintang, Jakarta, 1991

Machasin, “Menyelami Kebebasan Manusia”,Pustaka Pelajar, Yogyakarta,1996.

Masyar’I  Anwar, “Ahlak Al-Qur’an, bina ilmu”, Surabaya,1990

Rahmad Jalaluddin ,”Renungan-renungan sufistik”mizan, bandung, 1997.

Qordhowi Yusuf, “Karakteristik Islam”, Risalah Gusti,Surabaya, 1995

.

 



1 Jalaluddin Rahmad,”Renungan-renungan sufiostik”mizan, bandung,1997,h.16.

2 Dr. Ahmad Amin, Al-Akhlak, terjemahan Y bahtiar Affandy,jembatan, Jakarta,1957,h.1.

3 Dr.Machasin, “Menyelami Kebebasan Manusia”,Pustaka Pelajar, Yogyakarta,1996,h.18.

4  Dr. Yusuf Qordhowi, “Karakteristik Islam”, Risalah Gusti,Surabaya, 1995,h.5

5 H. Anwar Masyar’I, “Ahlak Al-Qur’an, bina ilmu”, Surabaya,1990,h.50.