Make your own free website on Tripod.com

 

<< Back

HAKEKAT DAKWAH DALAM ISLAM*

Oleh: M. Arifin AB**

 

Pengertian Dakwah

            Dakwah secara bahasa berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata da’a-yad’u-da’watan artinya mengajak, menyeru. Ditinjau dari pengertian istilah adalah mengajak pada Islam dan amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan kata lain dakwah adalah proses perubahan dari kehidupan jahiliyah kepada kehidupan yang Islami.

            Pengertian tersebut diambil dari nash hadits, sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi SAW:

“Barang siapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, dan apabila ia tidak mampu, maka hendaklah merubahnya dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka hendaklah merubahnya dengan hatinya. Dan sesungguhnya hal itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, At Tirmizi, An Nasa’I, Ibnu Majah dari Abi Sa’id Al Khudri).

            Kesimpulannya, pengertian “merubah keadaan” berarti dakwah bukan sekedar seruan kepada orang lain agar melakukan kebaikan, melainkan harus disertai dengan usaha untuk melakukan perubahan.

 

Tujuan Dakwah

            Tujuan dakwah dalam Islam adalah merubah keadaan yang tidak Islami menjadi Islami serta agar dapat mendekatkan diri kepada Allah. Secara ringkas dan rinci tujuannya adalah:

  1. Mengajak orang kafir agar masuk Islam
  2. Mengajak kepada orang Islam agar masuk dan melaksanakan Islam secara kaffah
  3. Menegakkan kema’rufan dan mencegah kemungkaran yang dilakukan oleh pribadi, kelompok, ataupun negara.

 

Dalil tentang Wajibnya Berdakwah

            Dalil tentang wajibnya berdakwah berasal dari dalil-dalil Syar’iyah, yaitu Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ Sahabat. Diantaranya:

  1. Dalil dari Al Qur’an
  2. Dalil As Sunnah
  3. Ijma’ Sahabat

Ini bisa kita lihat dengan adanya af’al para sahabat yang dalam hidupnya dakwah merupakan darah daging bagi mereka, makan dan minum bagi mereka.

Pelaku Dakwah

            Aktifitas dan sifat dakwah itu berbeda-beda mengikuti siapa pelakunya. Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dakwah bisa dilakukan secara individu, jama’ah dan negara.

§         Aktifitas Dakwah Pribadi/Fardhiyah: bentuk dakwahnya diperbolehkan secara fisik dan non fisik. Dakwah secara individu ini pengaruhnya sangat kecil dan hasilnya sangat terbatas. Di kalangan Da’I dan pengikutnya dapat menimbulkan perpecahan, fanatisme dan kedengkian. Namun segi positifnya adalah mudah bergerak, tanpa terikat dengan orang lain atau jama’ah.

§         Aktifitas Dakwah kelompok/Jama’ah: bentuk aktifitasnya tidak diperkenankan secara fisik, melainkan non fisik yaitu penyebaran pemikiran dan politik. Mengemban dakwah dalam bentuk jama’ah adalah fardhu yang diwajibkan oleh tujuan aktifitas dakwah tersebut. Aktifitas dakwah untuk menegakkan dan mengembalikan kehidupan Islam tidak mungkin terlaksana hanya melalui dakwah individu.

§         Aktifitas Dakwah Negara/Daulah: bentuk aktifitasnya secara fisik dan non fisik sekaligus. Caranya dengan melaksanakan semua hukum syara’.

 

Kampus Sebagai Sasaran Dakwah

            Kampus merupakan bagian bumi Allah yang sangat bagus untuk dijadikan tempat dakwah. Karena kampus dipenuhi intelektual dan penerus yang punya potensi tinggi dalam masyarakat. Keberhasilan dakwah dikampus dipengaruhi beberapa factor, antara lain adalah situasi keliling (internasional, nasional, lokal kota dan kampus), bahan dasar kader, dan pengalaman dakwah sebelumnya.

            Dakwah di kampus akan memberikan prospek dan hasil yang baik bila:

Dakwah dikampus sama halnya dengan ditempat lainnya dalam hal tantangan dan rintangan yang akan menghambat perkembangan dan hasil dakwah. Untuk itu harus diketahui tantangannya, antara lain sistem pembinaan dan pembina yang bagaimana, fungsi kampus sejauh mana, dan proyeksi kader nantinya mau ke mana dan jadi apa, sebagai intelek, praktisi, professional, atau ustadz/ulama.

 

Kondisi Umat Sekarang

            Sejak dihancurkan negara Khilafah Islamiyah sebagai institusi kekuasaan kaum muslimin pada bulan Maret 1924 di Turki oleh konspirasi jahat negara-negara kafir melalui tangan Mustafa Kamal Atarturk yang berdarah yahudi itu, kaum muslimin terperosok dalam jurang kehinaan yang paling dalam.

            Kaum muslimin terkerat-kerat menjadi lebih dari 50 negara dan dipimpin oleh banyak penguasa. Masing-masing menerapkan sistem hukum dan pemerintahan kufur yang bertentangan dengan sistem dan pemerintahan Islam. Kalaupun ada dari Islam yang diterapkan, hanyalah menyangkut urusan-urusan pribadi, seperti akhlak, perkawinan, perceraian, kematian, warisan.

            Kondisi-kondisi itu mengakibatkan umat dibelenggu di negeri mereka sendiri oleh penguasa yang muslim, yang seharusnya memelihara, menjaga dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka selaku rakyatnya. Lebuh dari itu umat yang beriman terhadap kesempurnaan ajaran islam yang mereka miliki dicuci bersih dan diganti dengan pemikira-pemikiran sekuler. Perasaan umat yang didominasi oleh perasaan dan kultur islam diruntuhkan dengan kultur barat yang bebas. Sistem sosial, pendidikan, ekonomi, politik, militer, peradilan dan sejenisnya sama sekali tidak berlandaskan sistem Islam.

            Berdasarkan hal ini problema utama umat Islam saat ini adalah tidak diterapkannya sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT,  yaitu sistem Islam, ditengah-tengah masyarakat dalam segala aspek kehidupan. Tidak adanya kekuasaan Islam yang satu, yang dipimpin oleh seorang penguasa muslim yang adil yangf menerapkan syariat islam serta mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia sebagai risalah yang bersifat ideologis.

            Maka sesungguhnya perkara yang dapat menyelesaikan problematika kaum muslimin, dan tercapainya tujuan dakwah yang diusahakan hanyalah melalui tegaknya sistem negara khilafah, yang akan menerapkan kembali hukum-hukum Islam sekaligus mengemban dakwah Islam keseluruh penjuru dunia.