Make your own free website on Tripod.com

 

 << Back

Jati diri wanita menurut Al Qur'an dan Al Hadits

ARSIP TULISAN AKTIFIS - Ahad, 10 Juni 2001

 

Secara kuantitatif, wanita adalah separuh dari masyarakat dunia. Tetapi dinilai dari segi pengaruhnya bagi suami, anak dan dunia, jumlah wanita adalah lebih dari separuh. Oleh karena itu, seorang penyair berkata : Bila kau letakkan seorang ibu sebagai pengajar, kau akan melihat suatu bangsa yang harum namanya. Kemajuan dan kesuksesan para pemuka dunia, oleh sebagian orang bijak, layak dikembalikan kepada peran-serta para wanita, sehingga mereka menyatakan : 'Di balik kesuksesan orang-orang besar ada wanita'. Di pihak lain, diantara para filosof, ada yang melibatkan para wanita di pelbagai bencana dan tindakan kriminal yang terjadi di dunia, sehingga ketika suatu bencana atau tindakan kriminal terjadi, ada yang berkata : 'Selidikilah Wanitanya!'.

II. Jati Diri Wanita Menurut Al-Quran

Kesetaraan Harkat antara Pria dan Wanita Sebagai Hamba Allah


Dalam ajaran Islam sama sekali tidak terdapat pengurangan atas hak asasi wanita atau penganiayaan atas wanita karena memprioritaskan kaum pria, karena Islam adalah syariat Allah SWT Tuhan bagi laki-laki dan wanita. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah menyebarnya pemikiran buruk tentang wanita itu ke dalam hati sekelompok ummat Islam, sehingga gambaran mereka tentang jati diri dan ruang gerak wanita sangat buruk dan karena itu buruk pula perlakuan mereka tentang jati diri dan ruang gerak wanita . Keadaan ini membuat mereka melakukan pelanggaran batas-batas Allah berkaitan dengan dirinya dan terhadap wanita. Lebih-lebih pada pada beberapa abad terakhir, ketika ummat Islam telah jauh dari petunjuk nabi, jauh dari keadilan ajaran Islam, dan jauh dari pola hidup para pendahulunya yang dapat mudah diikuti jejaknya, meskipun tidak semuanya demikian.

Dalam beberapa hal wanita memiliki kesetaraan dengan laki-laki yaitu :
1. Kesamaan untuk mendapatkan ampunan dan pahala [Qs 33:35]
2. Kebebasan untuk memilih antara kafir dan iman seperti yang dicontohkan pada istri Nabi Nuh, Nabi Luth, dan Firaun [Qs 66:10-12]
3. Kesamaan untuk wajib hijrah ke madinah [Qs:4:97-100]
4. Kesamaan untuk berbaiat kepada rosulullah [Qs 60:12]
5. Kesamaan untuk tolong-menolong dalam amar ma'ruf nahi munkar [[Qs 9:7]
6. Kesamaan untuk menanggung bencana sehingga tidak ada diskriminasi antara pria dan wanita [Qs 85:4-10]
7. Kesamaan dalam mubahalah [Qs 3: 59-61]
8. Kesamaan dalam menanggung hokum berzina [Qs 24:2]

Pada dasarnya Islam menempatkan Wanita pada posisi yang tidak berbeda dengan pria dengan berbagai tanggung jawab yang dipikulnya, baik di dalam maupun di luar rumah, juga hak yang dberikan Islam kepada Wanita untuk berpartisipasi aktif-positif dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya perbedaan dalam ketetapan syariat itu merupakan pengecualian kaena disesuaikan dengan fitrah wanita yang telah ditetapkan Allah.

III. Jati Diri Wanita Menurut Hadist

Upaya merekontruksi jati diri muslimah melalui kajian shiroh merupakan hal yang tepat dan memiliki landasan ilmiah. Karena ulama yang shalih tetap berupaya merujuk shiroh terlebih dahulu sebelum mereka menggarap kajian fiqh, tafsir dan sebagainya sebagai bahan rujukan setelah Al-Quran dan Hadist sehingga ada legitimasi syar'I bagi upaya mencari bukti empiik dalam shiroh tentang peranan penting yang dimainkan para shohabiyah. Dlam bukunya penulis banyak memaparkan hadist yang meriwayatkan jati diri muslimah yang pada intinya menunjukkan bahwa keberadaan wanita dalam Islam tidak disubordinatkan seperti yang dituduhkan oleh kaum feminis. Para shohabiah yang dijadikan acuan oleh penulis untuk menggambarkan bagaimana kiprah dan peran wanita saat itu menunjukkan bahwa dalam mengemban amanah sebagai hamba allah, istri/ibu, kholifah fil ard dan anggauta masyarakat sifatnya adalah Komprehensif strategis dengan tiga misi utama yaitu :
1. Memperbaiki kondisi ummat melalui peran sebagai istri/ibu dan daiyah
2. Memperbaiki kondisi masyarakat melalui peran publiknya
3. Mengarahkan peradapan melalui peran sebagai kholifah fil ard nya

IV. Kesalahpahaman pada makna hadist yang seolah mendiskriditkan wanita

Hadist 'Penghuni neraka adalah sebagian besar wanita'
Dalam pengkajian hadist ini ada dua aspek yang perlu dicermati yaitu petunjuk hadist dan hikmah dari hadist tersebut yang mengingatkan kita baik laki-laki maupun perempuan untuk memelihara diri dari adzab neraka. Dominasi wanita dalam neraka bukan menunjukkan bahwa fitrahnya memang lebih mengarah kepada kejahatan /berbuat dosa dibandingkan laki-laki namun lebih disebabkan karena kekufuran wanita baik kepada Allah ataupun kepada suami dan tindak tanduknya yang tercela.
Hadist 'Wanita itu kurang akal dan kurang agamanya dan dapat meluluhlantahkan hati laki-laki yang kokoh dan perkasa
Kurang akal yang dimaksud disini adalah dari segi kesaksiannya [kesaksian seorang wanita setara dengan separo kesaksian laki-laki] dan udzurnya wanita untuk tidak sholat dan berpuasa karena haid menunjukkan wanita itu kurang agamanya. Jika ditelaah lebih jauh akan hadist ini ada 3 aspek yang perlu diperhatikan sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman :
1. Relevansi dan situasi waktu saat itu yang merupakan petunjuk umum dari nabi akan kegaguman beliau terhadap kebijasanaan Allah yang memberi kekuatan pada kepintaran sesuatu yang lemah dan menampakkan kelemahan pada sesuatu yang relatif kuat.
2. Petunjuk khusus berkaitan dengan 'kurang akalnya' yang mengandung kemungkinan arti kekurangan naluriah pada bidang tertentu atau secara umum dan kekurangan sektoral isidental yang temporer atau yang memakan waktu lama.
3. Petunjuk khusus berkaitan dengan 'kurang agamanya' lebih mengarah pada :
- Keterbatasan wanita dalam ibadah ritual karena siklus haid
- Kekurangan yang bersifat temporer yang merupakan takdir Allah yang nantinya akan dialas dengan pahala yang besar atas kerelaan dan kesabaran wanita dalam menerima takdir itu.
Hadist 'wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang paling bengkok'
Hadist ini menggambarkan dua hal yakni :
1. Perintah berwasiat kepada wanita yang melanggar syariat Islam
2. Wanita bukanlah mahluk yang dipuja-puja dan selalu dipikirkan bahkan diperebutkan seta bukan pula mahluk yang bias ditindas, tulang rusuk yang diibaratkan sebagai asal penciptaan wanita itu letaknya di dekat hati dan tangan bukan di kepala atau juaga bukan di kaki. Adapun kebengkokan tulang rusuk tersebut menunjukkan bahwa jika wanita yang berperangai buruk tidak diingatkan maka dia akan terus berbuat keburukan atau kesalahan.

V. Kesimpulan dan Penutup

Jati diri wanita hendaknya dikembalikan kepada Al-Quran dan Al-Hadist yang diawali dengan meluruskan gambaran wanita tentang dirinya kemudian melihat kemampuan yang ada dan mengasah serta mengembankan potensi diri untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semua yang dilakukan wanita itu hendaknya di dasarkan pada keinginan untuk beribadah kepada Allah, bermanfaat bagi ummat, dan bersedekah dengan hasil jerih payahnya. Itulah esensinya sehingga dalam beraktualisasi dan berprestasi, wanita Islam [muslimah] memiliki motivasi Lillah [mencari keridhoan Allah], menggunakan metode Billah [tidak melanggar kaidah syariat Islam], dan orientasi Akhirat sebagai tujuan akhir.

Nb : Makalah ini disampaikan dalam bedah buku Jati Diri Muslimah Menurut Al-Quran dan Al Hadist karya Prof. A.H.M. Abu Syuqqoh oleh Musbihatul Hidayah [KaDept Keputrian JMMI 1999-2000]