Make your own free website on Tripod.com
<< BACK ARTIKEL
 
ANTARA CINTA DAN VALENTINE *
T. Surya Atmaja **
 
 

.

           

Allah SWT berfirman:

 

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(21)

 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS.Ar Ruum 21).

 

Bulan Februari identik bulan kasih sayang karena ada satu hari yang disebut-sebut sebagai Hari Valentine.  Sehingga bisa kita saksikan perayaan dan parade untuk menggelar berbagai bentuk pengungkapan kasih sayang kepada orang-orang yang dikasihi.  Disamping  tentu saja ada motif-motif bisnis kapitalis dibalik semua itu, sebagai kesempatan promosi besar-besaran berbagai produk kapitalis.  Mereka mengartikan love sebagai cinta birahi. Dan pada praktiknya seluruh aktivitas yang berkaitan dengan hari Valentine menjurus kepada pergaulan pria dan wanita dengan cara mengumbar nafsu seksual belaka.  Mengapa hal ini bisa terjadi?  Tulisan ini mencoba mengupas pandangan apa yang melandasi terjadinya semua itu dan bagaimana Islam mengatasinya.

Terus, gimana sich sikap kita sebagai seorang muslim? Soalnya kita kudu ekstra hati-hati. Jangan sampai dech kita terburu latah ikut trend tersebut tanpa tahu alasannya. Allah telah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan     tentangnya” (Q.S. Al Isra’:36)

Oke, sekarang kita buka seluk beluk VD

 

Sejarah Valentine’s Day

Ada beberapa versi tentang asal mula Valentine’s Day. Sejarah valentine’s day menurut The World Book Encyclopedia (1998) memberikan banyak versi. Pertama adalah perayaan Lupercalia yaitu rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk Dewi Cinta Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis didalam kotak. Lalu para pemudamengambil secara acak, gadis yang namanya keluar harus mejadi pasangannya selama setahu utuk senang-senang dan menjadi obyek hiburan. Pada 15 februari, mereka meminta perlindungan dewa lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ni, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut, karena lecutan itu dianggap akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, upacara ini di rubah dan diwarnai degan buansa kristiai, pada 496 M, Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama saint valentine’s day untuk menghormati st Valnetine yang kebetulan mati pada 14 Februari (200 tahun setelah digantung oleh Kaisar Claudius).

Ada 3 nama Valantine yang mati pada 14 februari, seorang diantaranya diloukiskan sebagai mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah dijelaskan ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud. Juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung pangkalnya, karena tiap sumber mengisahkan berbeda. Vewrsi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valetine karena menyatakan tuhannya Isa AL Masih dan menolak menyembah tuhan Romawi.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada yang sudah menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St. Vlanetine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M. sebelum kematiannya ada seorang gadais anak sipir penjara yang mengobrol dengannya berjam-jam. Disaat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil “Love from your Valentine”.

Kebiasaan mengirim kartu valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya.  

Valentine Ajang Maksiat

            Sebagai orang yang nggak kuper alias tanggap, pasti kita menyadari bahwa setiap Valentine datang, saat itulah maksiat bertebaran. Sebut aja, berapa banyak pasangan muda yang berkhalwat alias berdua-duaan, campur baur laki-laki dan perempuan dalam pesta, mengumbar aurat, dan yang pasti menghamburkan uang. Itu artinya, banyak dosa yang kita perbuat. Padahal dalam Islam, jelas bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan bergaul.

Pasti kamu semua udah pada tahu, atau barangkali pura-pura tidak mau tahu. Nah, sekarang udah pada tahu khan, kalau yang namanya VD itu bukan berasal dari Islam. So, ngapain kita ngikutin budaya mereka? Apa mau kita itu dianggap bebek alias pengekor? Padahal Rasulullah telah bersabda:

“ Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani” (HR. Tirmidzi)

Dan dalam sabdanya yang lain,yakni:

“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka mereka termasuk golongan kaum itu.” (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad)

            Nah dari paparan di atas aja, udah jelas kalo yang namanya merayakan Valentine’s Day adalah HARAM. Makanya, jangan sekali-kali ikut terjebak ke sana. Dan sekali lagi, ungkapan cinta dan kasih sayang, tidaklah hanya satu hari saja, tetapi setiap hari selayaknya kita ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang itu kepada ortu, saudara, sohib, dan tentu saja masih dalam koridor aturanNya. Perasaan cinta yang akan melahirkan cinta Allah dan ridlo Allah kepada kita. Jadi, nggak hanya tanggal 14 doang, itu sich namanya kasih sayang sesaat alias semu.

 

Pandangan Barat tentang hubungan pria-wanita

 Masyarakat Barat menganggap bahwa hubungan pria dan wanita didominasi oleh pandangan yang bersifat seksual (sebatas hubungan biologis antara pria dan wanita).  Mereka menganggap bahwa gejolak seksual yang timbul jika tidak dipenuhi akan mengakibatkan kerusakan pada diri manusia; baik terhadap fisik, psikis, maupun akalnya, bahkan sampai menyebabkan kematian.  Mereka menuhankan teori Freud sebagai legalitas ilmiah, dengan teori libido sex-nya. 

Oleh karena itu mereka memecahkan masalah ini dengan cara sengaja menciptakan fakta-fakta yang terindera dan fantasi-fantasi yang membangkitkan naluri seksual, semata-mata untuk dipenuhi.  Hal ini terlihat dalam berbagai produk budaya mereka yang selalu mengekspos segala sesuatu yang berbau seksual.  Cerita film-majalah-buku-reklame-lagu-lagu-pertunjukan musik dan tari. Dan jika gejolak seksual timbul, mereka telah siap dengan cara pemuasan yang liberal.  Gaya hidup campur baur antara pria dan wanita atau free sex yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja-di rumah, tempat rekreasi, di jalan, kolam renang, kantor  dll, serta bagaimanapun caranya-kumpul kebo, lesbian, homo-sex, dll.  Mereka menganggap hal tersebut di atas merupakan hal  lazim dan penting serta bagian dari sistem dan  gaya hidupnya.

Dampak dari penerapan sistem ini adalah kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dengan terjadinya dekadensi moral, pelecehan seksual, kekerasan terhadap wanita, aborsi, single-parent, eksplorasi terhadap wanita, rusaknya tatanan keluarga karena tidak jelas lagi nasabnya, budaya unwed, generasi ekstacy, generasi pria yang tidak bertanggung jawab dalam nafkah dan perwalian, dll.  Dalam jangka panjang, apa yang bisa kita harapkan dari masyarakat yang sakit parah luar-dalam.  Masyarakat yang seperti ini sudah pasti tidak akan mampu berkarya optimal untuk memberikan manfaat bagi kemanusiaan. Mereka tidak akan sanggup berpikir positif secara ideologis.  Mereka tidak akan sanggup berkorban demi perjuangan ideologi.  Mereka tidak mampu bertanggung jawab atas keadaan seluruh umat manusia.  Dan mereka tidak mampu merancang masa depan dunia yang aman, damai dan sejahtera.  Sebaliknya, apapun aktivitas yang mereka kerjakan hanyalah demi isi perut sendiri tanpa peduli akibat yang terjadi bagi yang lain. Sadar atau tidak, yang mereka kerjakan selalu menimbulkan kerusakan kecuali masih ada rasa kasih sayang dari Sang Pencipta.  Maka terciptalah masyarakat yang mati enggan hidup pun tak mau—seperti sekumpulan mayat yang berjalan.  Sungguh mengerikan!  Na’udzubillaahi min dzalik…

 

Fakta Kebutuhan Naluri

Ada dua potensi yang menandakan manusia itu hidup, yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan naluri. Secara faktual ada perbedaan mendasar antara keduanya, baik dari segi pemunculannya maupun dari segi pemenuhannya.  Kebutuhan jasmani seperti makan, minum, buang hajat, istirahat, dll muncul karena dorongan internal di dalam diri manusia akibat bekerjanya fungsi faal organ tubuh manusia secara otomatis.  Kebutuhan jasmani menuntut pemenuhan yang bersifat pasti.  Tuntutan pemenuhan kebutuhan jasmani tidak akan pernah hilang selama belum dipenuhi, karena faktor-faktor internal tersebut tetap ada secara mutlak.  Jika tidak dipenuhi tuntutan tsb, maka akan mengakibatkan mara bahaya sampai pada tingkat kematian. 

Sebaliknya, naluri manusia seperti naluri untuk mempertahankan eksistensi diri, naluri beragama dan naluri seksual tidak terjadi karena faktor internal.  Tetapi terjadi karena faktor eksternal yang dijumpai oleh manusia ketika beraktivitas, baik berupa fakta-fakta yang terindera maupun fantasi-fantasi yang dapat membangkitkan salah satu nalurinya.  Faktor eksternal tsb akan menimbulkan gejolak dalam diri manusia  yang menuntut untuk dipenuhi kebutuhan nalurinya.  Apabila tidak ada faktor eksternal yang berkaitan dengan salah satu naluri, maka naluri-naluri itu tidak akan pernah muncul dan  tidak akan menimbulkan kegelisahan.

Jadi, segala sesuatu yang ada di hadapan seseorang yang dapat membangkitkan naluri seksualnya, baik fakta ataupun fantasi seksual, akan menyebabkan orang yang bersangkutan merasakan adanya gejolak jiwa yang menuntut pemenuhan naluri seksual.  Jika tuntutan naluri seksual itu tidak terpenuhi, maka hanya akan menimbulkan kegelisahan, pada tingkat lanjut mengakibatkan kepedihan yang menyakitkan hati.  Akan tetapi jika orang itu dapat menjauhkan diri dari fakta-fakta dan fantasi seksual, atau mencari kesibukan yang dapat mengalihkan pengaruh tersebut, maka tuntutan naluri seksual untuk dipenuhi akan hilang dan orang tsb akan kembali tenang.  Dengan demikian, jelaslah bahwa tidak terpenuhinya naluri seksual tidak akan mengakibatkan penyakit apa pun, baik terhadap fisik, psikis, maupun akal, apalagi sampai menyebabkan kematian.

 

Pandangan Islam tentang Hubungan Pria-Wanita

Islam memandang pergaulan pria-wanita lebih dipengaruhi dengan tujuan penciptaan pria-wanita, yaitu untuk melestarikan jenis keturunan manusia.  Islam membatasi ruang bagi naluri seksual hanya ada dalam kehidupan rumah tangga.  Islam melegalkan pemenuhan hasrat seksual antara pria dan wanita dalam bingkai pernikahan (QS. Ar Ruum 21). Islam, memandang tujuan hidup manusia bukan semata beranak pinak, tapi beribadah.  Dan Islam memandang bahwa aktivitas seksual yang legal syar’i itu sebagai bagian dari ibadah yang berpahala. Sebaliknya, hubungan sex ilegal adalah tindakan kriminal yang mendapatkan dosa. Dengan demikian, tatanan kehidupan bermasyarakat menjadi jelas dan teratur. Rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, akan mampu melahirkan generasi masa depan yang tangguh dan mampu melanjutkan keturunan umat manusia yang bertanggung jawab bagi masalah kemanusiaan itu sendiri.

Selanjutnya, sistem pergaulan pria-wanita dalam Islam justru menjauhkan segala hal yang dapat membangkitkan naluri seksual. Fakta-fakta cabul maupun fantasi-fantasi porno dilarang beredar di tengah-tengah masyarakat bagaimanapun bentuk dan kemasannya. Jadi film-musik-tari-cerita-permainan-dll yang beredar di masyarakat bersih dari bau seksual. Berarti dapat kita bayangkan bahwa segala hal yang akan beredar di masyarakat adalah sesuatu yang bersifat edukatif,  bertanggung jawab dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Jiwa-jiwa yang ada dalam masyarakat Islam adalah jiwa yang tenang, yang mampu berpikir positif dan mampu mengemban misi kemanusiaan. Dan jika ada manusia yang tidak mungkin lagi menghindari masalah seksual, maka Islam memberikan jalan melalui jalur pernikahan atau pemilikan hamba sahaya. Pemecahan Islam dalam hal pergaulan pria-wanita merupakan pemecahan yang tepat dan sempurna, yang akan dapat menciptakan kemaslahatan dan kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

 

Aturan Pergaulan Pria & Wanita dalam Islam

  Islam memandang pergaulan pria-wanita dilandasi oleh kesucian, ketaqwaan, kemuliaan, kehormatan diri, untuk memperoleh kemaslahatan dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan serta mewujudkan ketenangan hidup dan kelestarian keturunan manusia. Untuk mewujudkan kehidupan umum masyarakat yang sehat dan suci, Islam mengatur pergaulan pria-wanita dengan metode, cara maupun sarana yang dapat menjaga kemuliaan dan akhlak terpuji sebagai sesuatu yang wajib dilaksanakan.  Islam melarang pria dan wanita membuang waktu, pikiran, dan tenaga, termasuk biaya dalam hubungan ilegal atau dalam kungkungan fantasi seksual. Islam mewajibkan wanita membawa keluarganya (mahram) jika hendak bertemu dengan seorang pria di tempat sepi, membatasi wanita bersolek untuk suaminya semata, melarang pria dan wanita saling memandang dengan  nafsu seksual (Qs An Nur: 30-31), melarang pria membuka aurat dan mengharuskan wanita berpakaian secara sempurna (jilbab) dalam QS An Nur:31 dan QS Al Ahzab:59, mengharuskan wanita ditemani mahramnya dalam melakukan perjalanan sehari semalam,  melarang wanita keluar rumah tanpa ijin suaminya.  Islam membatasi pria wanita bukan mahram hanya dalam urusan publik dan melarang mereka berhubungan privat, mengenal lebih dalam, kecuali untuk memproses pernikahan.   Jelas tidak ada tempat bagi hari Valentine di masyarakat Islam.

Dengan hukum-hukum tersebut Islam memberikan solusi yang tepat dari adanya interaksi antara pria dan wanita dan membuat pergaulan pria-wanita menjadi efektif sesuai tujuannya.  Yaitu dapat menjaga interaksi pria dan wanita tetap dalam koridor kerjasama semata dalam menggapai berbagai kemaslahatan bagi individu dan komunitas dalam masyarakat, dapat mencegah interaksi yang mengarah pada hubungan yang bersifat seksual, serta dapat menjamin terwujudnya nilai-nilai akhlak yang luhur.   Sebab memang kerjasama antara keduanya bertujuan agar wanita dapat segera mendapatkan  hak-haknya dan kemaslahatannya serta dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya.  Sistem Islam menjadikan cita-cita tertinggi hanyalah tercapainya keridhoan Allah semata.

 

Renungan untuk Saudaraku

            Saudaraku, Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita. Sungguh, nikmat itu tiada terhitung nilainya. Mata, hidung, tangan, kaki, udara, uang, dan sebagainya itu merupakan pemberian Allah kepada kita, gratis lagi. Haruskah ini semua kita balas dengan pengkhianatan terhadap aturan-aturanNya? Dimanakah akal kita, sampai-sampai peringatanNya kita labrak dengan berani?

 

Renungkanlah firman Allah berikut:

“ Barang siapa yang berpaling dari peringatanKu, niscaya baginya penghidupan yang sempit. Dan di akherat Kami himpun dia dalam keadaan buta.” (Q.S. Thaha:124)

Dan dalam hadits Nabi saw:

“ Barang siapa yang mengerjakan sesuatu pekerjaan tidak ada perintah dariku (Nabi saw) maka amal itu ditolak”.

           

Khatimah

            Demikianlah, sangat tampak kebenaran dalam pandangan Islam tentang interaksi antara pria dan wanita lebih dipengaruhi oleh tujuan dari penciptaan naluri seksual, yaitu untuk menjaga kelangsungan keturunan manusia.  Metode pemenuhan naluri seksual adalah dalam bingkai pernikahan. Masyarakat pun akan menjadi sehat dengan bersihnya lingkungan kehidupan dari propaganda pengumbaran hawa nafsu, seperti poster-poster dan gambar-gambar cabul, film dan bacaan porno. Solusi Islam yang tepat dan sempurna mampu menciptakan kemaslahatan dan kedamaian di tengah masyarakat, dan mencegah kerusakan secara dini.  Lalu apa yang dicari oleh sebagian kaum muslimin yang ikut-ikutan cara hidup Barat ?. Hanya dengan Islam kehiduapn dan penghidupan ummat manusia akan penuh rahmat. Tentu ketika Islam diterapkan secara kaafah, menyeluruh dalam sebuah bingkai seperti yang pernah dicontohkon oleh Rasulullah saw ketika beliau bersama kaum Muslimin di Madinah menerapkan Islam dalam kancah kehidupan sehari-hari kemudian diteruskan oleh para khlufaur Rasyidin hingga runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah di Turki Utsmani pada 1924 M.

 

 

 

 

 

 

*     disampaikan pada acara Talk Show Valentine’s Day, pada 13 Februari 2005 yang diselenggarakan 

       oleh PD PII Kab. Kediri.

 **  Ketua Dewan Ta’dib Regional Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Timur. Menghiasi hidupnya

      dengan aktivitas di PII sejak 1996 hingga kini.